Prodi Pendidikan Guru Sekolah Dasar (PGSD)

Prodi Pendidikan Guru Sekolah Dasar (PGSD) merupakan salah satu prodi yang berada di Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan (FKIP) Universitas Flores (Uniflor).

Menjadi Guru Yang Berbudaya

Saatnya belajar menjadi Guru Sekolah Dasar yang berbudaya.

Menjadi Guru SD yang profesional

Bersama kami, anda dididik menjadi Guru Sekolah Dasar yang profesional di era 5.0.

Laboratorium Microteaching

Salah satu fasilitas Prodi PGSD adalah laboratorium microteaching.

Perpustakaan

Perpustakaan Prodi PGSD menyediakan buku-buku yang lengkap sesuai kebutuhan akademik mahasiswa.

Jumat, 28 Juni 2019

Seminar regional dengan tema ” Lingkungan Adalah Sahabatku”

Program Studi Pendidikan Guru Sekolah Dasar (PGSD) Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan (FKIP) Universitas Flores Ende menggelar seminar regional dengan tema ” Lingkungan Adalah Sahabatku” di aula FKIP kampus II Universitas Flores (Unflor), Sabtu (29/06/2019).

Koordinator kegiatan seminar Patrisius Hans Nembo, menjelaskan bahwa seminar ini dilaksanakan dalam rangka memberikan pemahaman yang lebih kepada mahasiswa dan juga bagi kita agar menjaga lingkungan dengan baik dan dijadikan sebagai sahabat.

Karena kata Dia lingkungan merupakan faktor terpenting yang harus dijaga dalam kehidupan kita sehari-hari. Sebab lingkungan itu sendiri bersinggungan langsung dengan kehidupan manusia.


Lingkungan hidup yang dijaga dengan baik lanjut Patris akan memberikan manfaat bagi manusia. Tetapi sebaliknya jika eksploitasi yang berlebihan terhadap lingkungan, maka dengan sendirinya akan mendatangkan bencana bagi manusia.

Fenomena pemanasan global (global warming) menjadi ancaman bagi kehidupan manusia masa kini dan masa yang akan datang. Karena itu kata Dia dengan kondisi lingkungan yang semakin tercemar sekarang ini, sudah menjadi isu yang serius dan harus disikapi sesegera mungkin.

Upaya yang bisa dilakukan untuk menjaga lingkungan itu tetap seimbang kata Dia adalah meningkatkan kesadaran masyarakat akan pentingnya lingkungan hidup yang sehat dan ramah, serta penegakan supremasi hukum dibidang lingkungan hidup.

Sementara itu Ketua Program Studi Pendidikan Guru Sekolah Dasar Felix Welu, S.Pd, M.Pd. menjelaskan bahwa seminar regional dengan tema lingkungan adalah sahabatku sangat penting dan bermanfaat bagi masa depan bumi yang kita cintai ini.

Perkembangan dan kemajuan teknologi semenjak abad ke 20 yang tanpa diikuti kesadaran manusia untuk menjaga lingkungan kata Dia mengakibatkan munculnya berbagai masalah bagi lingkungan hidup dan salah satunya adalah pemanasan global (global warming).


Karena itu kata Felix, setiap orang punya kewajiban untuk menjaga lingkungan agar tetap utuh, jadikan lingkungan sebagai sahabat, maka dengan sendirinya lingkungan juga akan bersahabat dengan kita. Apalagi lingkungan merupakan tempat kita tinggal,tempat anak kita tumbuh dan berkembang.


Pada tempat yang sama salah satu dosen, Aschari Senjari Rawe, S.E, M.Pd. mengatakan bahwa mahasiswa bukan hanya menerima ilmu di bangku kuliah, tetapi juga harus diimbangi rasa kepedulian terhadap lingkungan dengan mempraktekkan kecintaannya terhadap lingkungan pada saat hidup bermasyarakat.

Secara terpisah Dosen yang lain Geryani Suryo Moang Kala ,S.Pd, M.Pd. mengatakan bahwa seminar regional dengan tema “lingkungan adalah sahabatku” yang menghadirkan pemateri dari komunitas Anak Cinta Lingkungan ( ACIL), dan Trash Hero Ende, dapat memberikan pengetahuan yang lebih tentang bahaya sampah bagi lingkungan.

Dengan demikian akan berkembang lingkungan yang bebas dari sampah sehingga tercipta habbits atau kebiasaan membuang sampah pada tempatnya. Seminar ini juga lanjut Dia menunjang peluang usaha mahasiswa tentang pengelolaan sampah dalam sebuah wadah bank sampah.


Selasa, 25 Juni 2019

Kegiatan Latihan Menjadi Seorang Pembawa Katekese dengan Penerapan Metode Kontekstual

 

Selain memiliki kompetensi pedagogik dan profesional, mahasiswa calon guru sekolah dasar harus memiliki kompetensi sosial. Salah satu komptetensi sosial yang penting dimiliki ketika sudah lulus dari program studi PGSD adalah mereka bisa menjadi guru yang peduli dengan lingkungan masyarakatnya termasuk berpartisipasi aktif dalam kegiatan-kegiatan Pastoral Gereja di Keuskupan masing-masing. Salah satu kegiatan gereja yang rutin dilakukan di lingkungan mereka adalah katekese.

Seperti dikutip dari http://www.imankatolik.or.id, kata katekese berasal dari kata catechein (kt. Kerja) dan catechesis (kt. Benda). Akar katanya adalah kat dan echo. Kat artinya keluar, ke arah luas dan echo artinya gema/gaung. Berarti makna profan dari katekese adalah suatu gema yang diperdengarkan/disampaikan ke arah luas/keluar. Gema dapat terjadi jika ada suara yang penuh dengan keyakinan dan gema tidak pernah berhenti pada satu arah, maka katekese juga harus dilakukan dengan penuh keyakinan dan tidak pernah berhenti pada satu arah.

Dosen Pengasuh Mata Kuliah Aurelius Fredimento, S.Fil., M.Th mengatakan bahwa:  Kegiatan Ini sangat penting buat mahasiswa PGSD sebagai salah satu bentuk persiapan dan bekal untuk mahasiswa agar ketika terjun dalam medan pengabdian mereka mampu menjadi fasilitator dalam aneka kegiatan pastoral Gereja di Keuskupan masing-masing.

Foto by AFM doc

Kegiatan Latihan Menjadi Seorang Pembawa Katekese Dengan Penerapan Metode Kontekstual ini dilaksanakan pada tanggal 24-25 Juni 2019 bertempat di  Aula Paroki Persiapan St. Marinus Puurere. Para peserta pelatihan adalah Mahasiswa Semester IV yang Program Mata Kuliah Pendidikan Agama di SD didukung oleh Mahasiswa Semester II. Pastor Paroki Sangat Mendukung Kegiatan Ini

Kegiatan ini menggunakan metode kontekstual. Alasannya adalah bahwa karya pewartaan Kerajaan Allah untuk Gereja Katolik saat ini harus ikut berkembang sesuai dengan perkembangan zaman. Metode pewartaanpun harus di kemas secara kontekstual sehingga nilai nilai kerajaan Allah sungguh terinternalisasi dalam diri umat. 

Untuk mendukung terlebih dahulu mahassiwa di berikan pemahaman konseptual dan teoretis tentang katekese umat sebagai media pewartaan. Setelah mendengar dan memgerti konsep teoretis, mahasiswa dilatih menyusun bahan katekese sederhana. Langkah terakhir adalah praktek membawakan katekese. Dan ternyata hasilnya luar biasa. Mahasiswa mampu menyusun bahan katekese dengan tema ditentukan oleh mereka sendiri.  Dari proses yang terjadi di jumpai beberapa kelebihan yang di tampilkan mahasiswa ketika menjadi seorang fasilitator. Kelemahan yang di jumpai adalah kempuan publik speaking belum terlalu memadai.